Minggu, 28 Agustus 2011

Ramadhan dalam Dekapan Ummi


Ramadhan dalam Dekapan Ummi

Ya Allah… aku malu mengakuinya kalau kumerinduinya… seolah kuingin menepis bayangnya, tapi selalu hadir dalam diamku. Dalam sepertiga malam yang kulewatkan untuk merinduMu, berkhalwat denganMu. Ya, memang seharusnya kulewatkan waktu indah ini untuk mengenangMu seorang, duhai Gustiku yang Maha Penyayang… Namun, pikiran ini tak bisa lepas dari geraknya, senyumnya yang mengitari angan-anganku mengajakku untuk selalu tersenyum. Paras rupawan berbalut akhlak mulia menghiasi pribadinya. MakhlukMu yang tak pernah lepas dari bertasbih kepadaMu. Sementara aku di sini termenung mengenang saat indah yang disuguhkannya kepadaku. Tapi, apa mungkin memang untukku, atau… hanya khayalku yang menghiperboliskan sikapnya. Detakan jam dinding kamar terasa melambat, mencipta anganku semakin jelas di langit-langit. Mataku masih terbuka, tapi lamunanku sempurna. Persis nyata seperti tadi sore. Dalam setiap lamunanku, kata-kata ummi pun selalu terkenang dalam angan. Yahh, ummiku gaul dan sangat paham akan gejolak anak muda. Selalu mendampingi dan mengarahkan untuk tetap menjaga.
“Hanif… Hanif….”
“Ayo sahur dulu…”
Jlek. Suara lembut ummi seakan berubah menjadi suara gong yang pernah kudengar saat peresmian restoran kami tahun lalu. Padahal suara itu lirih, tapi mampu mengoyakkan lamunanku. Kaget juga denger suara ummi.
“Apa?? Sahur?”
Kuputar kepalaku menyamping lurus ke arah jam dinding.
Astaghfirullahal’adzim… Udah jam empat…”, sesalku.
Kata ‘tunda’ yang kupakai untuk meneruskan lamunanku sejak tadi, membawaku melewati malam tanpa arti. Coba tadi aku sholat dulu. Astaghfirullah, ternyata anganku tentangnya telah melupakan cinta hakikiku… Nikmat terindah yang sering terlewatkan oleh umatMu, kini kulewatkan juga. Waktu tak akan kembali. Fiuuuuhhhh, aku menghela nafas panjang pertanda untuk mengakhiri gumamanku. Terlintas kata ummi minggu lalu. Cinta itu anugrah tapi jangan sampai melebihi cinta kepada Allah ya, Nak. Ummi, astaghfirullah
Kusegerakan untuk sahur bersama keluarga kecilku ini, ummi, Nisa, dan aku, bertiga mengelilingi meja kotak. Meja yang selalu menghangatkan kebersamaan kami. Yahh, kadangkala kutatap wajah ummi, terlihat lelah dan menyimpan beban. Ya Allah, ini ummi yang selalu menenangkanku, memotivasiku, mengajarkanku untuk selalu tenyuman seperih apapun itu. Ummi yang berjuang sendiri demi menghidupi kami. Ummi yang selalu tegar dan tak pernah mengeluh. Suatu saat aku ingin menjadi seperti ummi. Ummi adalah pahlawan!

***

Yahh, tepatnya enam tahun lalu, saat aku berusia 12 tahun, Abi meninggal karena sakit jantung. Ya Allah, betapa perih hatiku kala itu, aku tahu pasti ummi pun merasakan demikian. Tapi tak ada setitik airmata pun yang membasahi wajah sahaja ummi, hanya guratan kesedihan yang menghiasi wajah menenangkan itu. Ummi mengatakan bahwa setiap orang di dunia ini adalah tamu, dan pastilah cepat atau lambat tamu itu akan pulang, Nak. Pulang kepada Pemilik sejati. Kita harus bisa ikhlas. Subhanallah, ummi selalu bertawakal atas semua takdirMu.

***

Imsak….Imsak…Imsak…
Terdengar gaung dari masjid yang berjarak beberapa meter dari rumah kami. Kami harus bersegera menghentikan sahur. Tak lama kami membereskan meja makan secara berjamaah, tiba-tiba “phet”, lampu padam.
“Aduh, ada-ada aja ni PLNnya. Jam segini dimatiin!, gerutuku.
“Tak apa, ayo ambil wudhu dulu, Nak.. Jangan sampai padamnya listrik juga memadamkan niat kita untuk beribadah”.
“Siap! Gelap kuterjang, malam merintang, tetap maju!, candaku.
Kuberanjak tertatih-tatih karena listrik masih padam.
“Kenapa dua hari ini jam segini mati listrik terus ya”.
Rasanya seperti musafir. Padasan, biasa kami menyebutnya, terasa lebih jauh. Di belakang dapur. Paling ujung kanan dari rumah. Kricik...kricik... suara air yang mengalir dari padasan memberiku isyarat. Aku cekikikan sendiri. Segera kumatikan senter. Ada derap langkah perlahan, sesosok tubuh mungil membawa lilin.
”Hwaaaaa....!!” teriakku sambil menyalakan senter ke arah atas dari bawah mukaku.
”Gak takut, wekk.... Cara kak Hanif jadul! Kata ummi, Nisa udah gede jadi gak boleh takut lagi”.
”Yaaaaahhh, umi gagalin misi Hanif aja!”
”Buruan kak, ayo lomba ketemu Allah”, teriak Nisa sambil lalu.
Ahh, itu anak kata-katanya ada-ada saja. Bergegas aku membuka tutup padasan yang terbuat dari karet sandal ini. Padasan peninggalan eyang yang tetap lestari sampai seusiaku ini. Brrrrr...! Dingin-dingin seger...

***

Aaamiin”.
Terdengar suara bersahutan dari beberapa orang.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh”.
Selesai kuseka muka, aku dan Nisa bersalaman bergantian. Selalu membuatku tentram... Menjabat tangan ummi, walaupun sudah ada tanda keriput di punggung tangannya, tapi masih tetap bisa kurasakan halusnya. Kucium tangan Umi. Kurasakann aura keibuan yang selama ini tak bisa kudapatkan dari seorang wanita manapun.
”Kak Hanif!! Jangan lama-lama dunk, ntar Nisa gak kebagian. Tangan ummi Nisa mana? Balikin!”
”Ah, Nisa apaan si!.
”Sudah-sudah jangann bertengkar”, Ummi meredam.
            Kuliah subuh kali ini bertema, kasih ibu sepanjang jalan. Jalan? Hihi, seperti lagu zaman aku masih kanak-kanak aja.. Begitu fasih ustadz muda itu menyampaikan materi. Subhanallah, ternyata begitu istimewanya menjadi seorang perempuan. Kelak aku pun akan menjadi seorang ibu yang mempunyai banyak kelebihan. Dengan pelukannya mampu mengobati luka, dengan kata-katanya mampu membuat tenang hati, dan hanya dengan menatapnya mampu merasakan kedamaian. Ummi, kasih yang tak lekang oleh waktu. Air mata ummi yang menetes saat kuterbaring lemah beberapa minggu yang lalu, dan air mata ummi yang mengiringi kemenanganku setahun lalu dalam ajang bergengsi English Speech Contest. Begitulah ummi mengekspresikan perasaannya. Ummi, sosok yang selalu kukagumi, karena kelembutanya, kemuliaannya, dan kasih sayangnya tak kan pernah usang dimakan zaman.

***

            Byurr...! Dinginnya... Sekali siraman air yang mampu membuat merinding. Kupercepat laju siramannya, ingin segera menyambar handuk untuk mengobati rasa dingin ini. Yahh, pagi ini aku tetap beraktivitas seperti biasanya, pagi ceria untuk bersiap-siap berangkat sekolah di salah satu madrasah aliyah tak jauh dari rumah. Nisa pun bersegera untuk mandi. Walaupun masuknya masih pukul 8, Nisa tak mau kalah. Itulah Nisa, selalu ingin berlomba dalam kebaikan. Dia menganggap segala sesuatunya yang ada dalam kehidupan ini adalah permainan, ada perlombaan, tapi semua adalah pemenang. Begitu polosnya anak itu, tak pernah sesaat pun kumelihat guratan kesedihan di wajahnya. Nisa, gadis kecil berusia 5 tahun yang selalu terlihat ceria dengan ciri khas goyangan kepalanya. Nisa sangat suka menggoyang-goyangkan kepalanya, sembari menengok ke belakang memperhatikan kibaran kerudungnya. Sangat riuh sekali rasanya memperhatikan Nisa asyik dengan kerudungnya. Akupun tak mau kalah dengan kesukaan Nisa berkerudung. Walaupun memang sudah menjadi hal yang wajib bagiku untuk mengenakan kerudung saat berada di kawasan sekolah. Tapi selebihnya dari itu ada motivasi tersendiri dalam diriku untuk selalu setia dengan kerudungnya.
Yapp, hampir pukul tujuh, sudah waktunya berangkat sekolah. Tak lupa salam hangat mengiringi kepergianku pagi itu. Dengan meneteng tas di pundak, kubersiap mengayuh sepeda mini menelusuri jalanan yang sudah padat dengan hiruk pikuk orang-orang dengan aktivitasnya masing-masing.
Tak lama kemudian Nisa pun menyusul meneteng tas, bersiap meluncur ke TK Mutiara Hati. Sepanjang jalan Nisa selalu bernyanyi, yahh, bernyanyi kasih ibu kepada beta. Lagu kesukaan Nisa.

***

Allahu akbar..allahu abar..
Alhamdulillahh....”
”Ayo sayang, pimpin doanya...”
”Oyee, Mi.”
            Selalu kurindukan kehangatan ini, buka bersama orang-orang terkasih. Ummi...Nisa. Kulirik kursi depanku, ”Dulunya Abi disini, bersama kami..”, gumamku. Yahh, dulu... Tapi, kali ini dengan melihat senyum Ummi pun, aku cukup bahagia. Bulan Ramadhan selalu mendekatkan kami, membuat kami punya lebih banyak waktu untuk bercengkrama. Yahh, inilah bulan kemenangan kita. Setelah menyantap menu berbuka secukupnya, kami tunaikan sholat magrib berjamaah, ummi sebagai imamnya.
Assalamu’alaikum....”
Selesai sudah, dan saatnya rutinitas di waktu mustajab ini kami lakukan kembali.
”Ayo mana setoran hapalan Nisa”, kata Ummi.
”Siap, Ummi!, kata Nisa seraya mngayunkankan tangannya ke arak pelipis isyarat memberi hormat.
Bismillaahir rahmaanir rahiim. Qul yaa’ayyuhal kaafiruun. Laa ta’ buduun..
”Sayang, laa a’budu maa ta’buduun”, sela Ummi membenahi.
Laa a’budu maa ta’buduun”, ulang Nisa.
Aaamiin”.
”Nah, Nisa sekarang sudah selesai, anak ummi pandai ya”.
”Hihii”, tersimpul bulan sabit di wajah Nisa.
Sekarang waktunya ummi dan aku tadarus... Kali ini kami melantunkan surah Ar-Rahman. Surah kesayangan abi. Surah ini mengingatkan kami untuk tak henti-hentinya bersyukur.

***

            Pagi yang hangat untuk memulai aktivitas dengan bismillah. Seperti biasa pagi ini aku bersiap berangkat sekolah. Tapi entah mengapa perasaan tak jelas berkecambuk dalam hatiku. Ada rasa sedih, gundah, gelisah, was-was, tak tentram. Tapi kubiarkan perasaan ini berlalu tanpa arti. Lama kumencium  tangan ummi, mendekap Nisa. Seperti ada perasaan takut kehilangan, takut berpisah. Ya Allah, semoga ini sekedar perasaan semata.
            Perlahan kukayuh sepeda miniku menyusuri jalan raya. Hanya perasaanku saja atau memang orang-orang ini selalu memperhatikanku ya. Aduh, aku jadi tak tenang. Konsentrasi pun pecah. ”Ya allah, lindungilah hamba”, kataku dalam hati. Kali ini aku merasa sendiri, jauh dari orang-orang, jauh dari keramaian. Kakiku terus saja mengayuh, namun lamunanku pun terus berlanjut. Tiba-tiba,
”Jdeerrrr...!!”
Tak kurasakan apa-apa, hanya nyeri luar biasa di pundak kananku. Aku masih saja menganggap ini halusinasi. Namun, kenapa banyak orang mengerumuniku? Ada apa ini? Sebelum semua tanyaku terjawab, gelap sudah. Tak kumenyadari apapun.
           
***

”Kring..kring..”
Suara telepon di kamar tengah memecah keheningan ummi dalam dhuhanya. Tiba-tiba hati ummi berdesir, ada perasaan takut saat ingin mengangkat gagang telepon. Perlahan, ”Halo, assalamu’alaikum”, kata ummi. ”Wa’alaikumsalam. Benar ini dengan keluarga Hanif Azzalea Putri?”, sahut seorang lelaki dari ujung gagang telepon. Seketika lemas seluruh tubuh ummi, tanpa bisa berkata-kata lagi, hanya istighfar yang menemani kesabarannya untuk menerima keadaan ini. Putri kesayangannya, putri kebanggaannya mengalami kecelakaan pagi tadi.
            Bersegera ummi, menuju RS Pelita Hati. Saat ummi tiba, dokter mengatakan Hanif dalam keadaan belum sadar dan masih dalam penanganan intensif. Ummi bersabar menunggui putrinya di lobi rumah sakit sambil tak lepas dari berdzikir, memohon pertolongan Allah atas kesehatan putrinya.
            Selang beberapa saat, Hanif telah dipindahkan ke kamar pasien. Ummi duduk di samping Hanif seraya mengelus dahi putrinya. Dengan sabar ummi membacakan doa bagi kesembuhan putrinya. Tak lama, Hanif membuka mata. Ummi terlihat bahagia.
”Hanif dimana ini, Mi?”
”Di rumah sakit, sayang”
”Hanif kenapa? Kenapa tubuh Hanif terasa sakit?”
”Tak apa, sayang.. Istirahatlah dulu, jangan banyak bergerak”
            Tak terasa sebutir air mata jatuh mambasahi tangan Hanif yang tengah terpejam. Hanif   terjaga dan bertanya lagi.
”Ummi, kenapa menangis? Hanif gak kenapa-kenapa kok.”
”Ummi bahagia sayang, karena Hanif sudah sadar. Ummi bahagia.”
”Oh, ya sudah. Ummi jangan nangis lagi ya, Hanif gak mau ummi cengeng, hehe.”

***

Dua minggu berselang, tanganku yang patah kini telah kembali bisa digunakan untuk beraktivitas kembali. Selama sakit, dengan sabar ummi merawatku. Saat makan disuapi, saat mandi ditemani. Kurasakan kedekatan dan kehangatan ummi seperti biasanya. Ummi selalu menguatkanku, membuatku bisa menerima semua ini sebagai ujian untukku bisa naik satu tingkat lagi menjadi pribadi yang lebih baik. Nisa pun ikut menghibur dengan tingkah polosnya yang sesekali membuatku tersenyum. Ini semua membuatku betah di rumah. Semua kehangatan ini yang akan selalu kurindukan sepanjang masa. Alhamdulillah...
Walaupun sakit, aku pun tetap berpuasa seperti hari-hari biasa. Sakit tidak menghalangi niatku untuk meninggalkan puasa sedikitpun. Toh, yang sakit hanya tanganku. Semangatku untuk berpuasa tak akan pernah luntur. Selama aku mampu, kulakukan kewajibanku sebagai umat Islam dengan senang hati.

***

Hari ke-13 puasa, restoran kami mengadakan acara syukuran atas nikmat yang Allah berikan selama ini. Tamu spesial kali ini adalah saudara-saudara kami yang dipercaya Allah untuk mengemban ujian atas kekurangan fisik mereka. Yahh, mereka adalah santriwan dan santriwati tuna netra dari salah satu yayasan di Yogyakarta, satu-satunya yang di Indonesia dan bertahan selama puluhan tahun. Nurani terketuk. Betapa mereka kekurangan, tapi tak satu pun dari mereka merasa kekurangan. Mereka adalah sosok yang sangat menginspirasiku. Arin, salah seorang santriwaati melantunkan ayat suci al-Qur’an, surah ar-Rahman. Betapa merdunya, ya Allah dan itu dilakukan dengan menghafal. Subhanallah. Aku saja yang dikarunia mata normal belum hafal surah itu. Malu rasanya. Kadang mata yang telah diamanatkan Allah ini, malah kugunakan untuk yang tidak semestinya. Astaghfirullah.
Ada hal lain juga yang membuat jantungku berdegup. Mereka pun tak kalah hebatnya kalau soal pendidikan. Kebayakan santrinya meneruskan kuliah di UGM ataupun UIN, sedang sekilas saya mendengar kalau salah satu santrinya ada yang sedang menempuh S3. Subhanallah. Sungguh Allah Maha Adil. Banyak sekali keajaiban-keajaiban yang kusaksikan atas mereka, membuat bibirku untuk selalu bergeming memuji sang Khalik.
”IBU...”
Jlek. Kata itu mengagetkan renungan sesaatku. Muna, salah seorang tuna netra yang kira-kira berumur 15 tahun membawakan puisi ini. Dengan kertas di tangan dan bantuan indra perabanya, lantang dia mengungkapkan puisinya. Begitu mendesir, bulu kudukku berkesiut. Merinding rasanya mendengar kata itu. Ibu adalah cinta pertama dan terakhir. Ibu adalah telaga penyejuk saat hati merasa pilu. Dekapan ibu sangat dahsyat menyembuhkan berbagai sakit hati. Senyuman ibu dapat selalu mengalihkan pikiran kalutku. Tak pernah ingin kukehilangan kebahagian atas diri ibu.
Seketika ingin kuberlari memeluk hangat ummi. Pengorbanan dan kasih sayangnya selama ini tak pernah ternilai. Betapa ingin kumembahagiakan ummi. Terlintas suatu keadaan, saat ummi mengatakan: ”Hanif jadi anak yang sholehah dan kakak yang baik bagi Nisa saja, sudah bisa membuat ummi begitu bahagia sayang..” Oh iya, cara itu. Aku akan membahagiakan ummi. Aku janji, demi ummi. ”Hidup ummi!” pekikku dalam hati.